kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45983,40   -6,54   -0.66%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Fulus deras dari bisnis produk olahan susu


Selasa, 27 Agustus 2013 / 13:45 WIB
Fulus deras dari bisnis produk olahan susu
ILUSTRASI. Promo Kartu Kredit Digibank, Diskon Semua Produk Traveloka s.d Rp750.000


Reporter: Sofyan Nur Hidayat | Editor: Tri Adi

Produk olahan yang sehat kian digemari. Salah satunya, produk olahan susu, seperti susu segar, yoghurt, dan berbagai camilan lain. Dengan mengolah susu lebih lanjut, pengusaha bisa mendulang keuntungan hingga 50%.

Masyarakat kian memahami arti penting hidup sehat. Ini terlihat dari kegairahan berbagai usaha yang menghasilkan produk-produk olahan yang sangat bermanfaat untuk mendukung gaya hidup sehat atau badan yang sehat.

Produk olahan susu, salah satu contohnya. Prospek nan cerah industri pengolahan susu ini jelas terlihat dengan makin banyaknya perusahaan yang mengajukan pesanan (order) untuk mengolah susu kepada Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).

Maklum, harga susu olahan, (susu kemasan, yoghurt, dan biskuit), jauh lebih tinggi dari susu segar. “Banyak pemain baru yang tertarik terjun pada industri pengolahan susu,” kata Teguh Boediyana, Ketua Dewan Persusuan Nasional, kepada Fitri Nur Arifenie dari KONTAN, beberapa waktu lalu.

Pasar yang masih menjanjikan juga menjadi modal pemain lama. Neneng Siti Rahmah, pemilik Ramkar Farm di  Sukalarang, Sukabumi, terus mengembangkan usahanya sejak 2006 silam. “Meskipun pemainnya banyak, permintaannya juga terus bertambah besar,” jelas produsen susu yang menyandang merek Hasmilk ini.

Maklum, banyak orang tua lebih senang jika anak-anak mereka mengonsumsi olahan susu, ketimbang camilan yang mengandung banyak penyedap buatan. “Susu sehat, anak-anak juga sudah akrab,” kata Neneng.   

Kini, Neneng mengolah 520 liter hingga 600 liter susu setiap hari menjadi berbagai produk olahan seperti yoghurt, susu segar, dan berbagai camilan serta permen berbahan susu. Dalam sebulan, dia pun bisa mengantongi omzet berkisar Rp 180 juta hingga Rp 190 juta.

Pendapat tak jauh berbeda  datang dari Muhamad Lutfi Nugraha, perajin susu Cahaya Dluha. Sama halnya Neneng, Lutfi juga melihat pasar produk susu olahan yang makin menggelembung. Ia melihat, konsumsi susu masyarakat Indonesia yang rendah sebagai peluang untuk terus menggenjot pertumbuhan produksi. “Dari 240 juta penduduk Indonesia, baru 11% yang rutin minum susu,” cetus dia.

Mengawali usahanya sejak 2008 silam, Lutfi, panggilan akrabnya, mampu mengolah hingga 300 liter susu saban hari. Berbagai produk yang dihasilkan antara lain susu aneka rasa, susu rempah, yoghurt, steak yoghurt, dan lainnya. “Produk yang paling laris adalah Lumer Fresh Milk dengan kontribusi 45% dari penjualan,” kata Lutfi.

Ia memang mengkreasikan olahan susu segar ini. Selain susu dengan rasa buah-buahan (Lumer Fruit), Lutfi juga meramu susu rempah dengan mencampurkan racikan jahe, madu, telur, dan rempah herbal. “Banyak wisatawan lokal yang suka,” kata Lutfi yang mengklaim sebagai pionir susu rempah-rempah pertama di Indonesia. Untuk berbagai produk olahan susu ini, ia mampu mendulang omzet hingga Rp 100 juta setiap bulan.

Bukan hanya peluang besar dan omzet menjulang, usaha pengolahan susu ini terbilang ranum, jika menilik keuntungan yang bisa diraih. Nilai tambah yang bisa digarap untuk produk susu ini cukup besar, sehingga profit yang bisa dihasilkan sebesar 30%, bahkan hingga 50%.

Untuk menambah penghasilan, pengusaha bisa mengemas usaha pengolahan susu sebagai objek wisata atau tujuan kuliner. Maklum, usaha pengolahan susu ini biasanya terletak di pegunungan dengan hawa sejuk, tidak jauh dari lokasi peternakan sapi perah.

Langkah ini dilakukan Lutfi di kedai susu sapinya, Lumer Fresh Milk. “Sekalipun tempatnya di hutan dan jauh dari keramaian, setiap Sabtu dan Minggu, banyak masyarakat dari Kuningan atau komunitas tertentu yang datang,” terang Lutfi yang membuka usahanya di dua tempat, yakni Cipari, Kuningan, Jawa Barat, dan Purwokerto, Jawa Tengah.

Anda tertarik menggeluti usaha pengolahan susu ini?



Mencermati musim

Langkah pertama yang harus dilakukan jika ingin memulai usaha ini, adalah memastikan kontinuitas pasokan bahan baku. Terutama, menentukan asal pasokan susu segar. Sebab, ini akan terkait dengan lokasi pengolahan susu.

Neneng menyarankan, sebaiknya, lokasi pengolahan tidak jauh dari peternakan sapi perah berada. “Ini untuk menjaga kesegaran bahan baku dan menghemat biaya transportasi,” tuturnya. Pabrik susu milik Neneng menempati lahan seluas 450 m² dan berada dekat dengan peternakan susu milik sendiri, yang selama ini menjadi pemasok utama.

Begitu pula dengan Lutfi. Lokasi pabrik pengolahan susu   miliknya berdekatan dengan peternakan susu miliknya, di Cipari, Kuningan. Selain mendapat pasokan susu dari 20 ekor sapinya, Lutfi juga menggandeng kerja sama dengan Asosiasi Peternak dan Pengolah Susu Rakyat Indonesia.

Untuk mendapatkan kualitas yang baik untuk bahan yoghurt, Lutfi memberi pakan yang berbeda atau di atas rata-rata untuk sapi perahnya. Sedang susu segar yang diperoleh dari peternak koperasi dipakainya sebagai bahan fresh milk. Harga susu segar berkisar Rp 4.500 hingga Rp 4.700 per liter.

Anda pun bisa mencari sentra-sentra susu sapi atau koperasi susu sapi yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Menurut Neneng, di daerah Sukabumi dan Lembang banyak terdapat sentra-sentra peternakan sapi perah. “Sumber susu yang baik itu dari peternakan yang terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut,” terang dia.

Setelah mendapatkan lokasi dan kepastian pasokan susu, Anda pun bisa mulai menyiapkan berbagai mesin. Untuk membuat susu segar dan yoghurt, Anda membutuhkan mesin pasteurisasi. Proses memanaskan susu dengan suhu tinggi tersebut bertujuan untuk membunuh organisme merugikan, tanpa mengurangi rasa dan kualitas susu.

Oh, iya, sebelumnya, tentu saja, Anda harus mempelajari seluk-beluk pembuatan berbagai produk olahan susu, baik susu segar, yoghurt, dan produk lainnya. Untuk susu segar, Anda bisa menambahkan gula dan perasa yang sudah mendapatkan label persetujuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makan (BPOM).

Pembuatan yoghurt pun menggunakan susu yang sudah dipasteurisasi, lalu difermentasi dengan memasukkan bibit bakteri yoghurt (bakteri probiotik). Sebelum dikemas, susu disimpan dalam suhu hangat (40° Celsius) agar bakteri cepat berkembang.

Proses penyimpanan berbagai produk bisa dilakukan dalam freezer atau lemari pendingin. Ingat, berbagai produk susu ini tak menggunakan bahan pengawet. Tanpa pengawet, produk itu hanya bisa bertahan dalam hitungan hari untuk susu segar hingga bulanan untuk yoghurt.

Karena itu, supaya produk olahan tak terbuang dengan sia-sia, Anda harus menghitung dengan tepat hasil produksi dan penjualan. “Saya hanya membuat yoghurt sesuai pesanan dan kapasitas produksi,” kata Neneng. Ia menetapkan sistem beli putus untuk para reseller, sehingga tak ada retur. Sedangkan untuk penjualan di ritel modern, ia hanya menerima retur karena kemasan rusak.

Selain mengelola produksi, untuk menjaga keawetan produk olahan susu ini, Anda juga harus memperhatikan fasilitas pengiriman. Pengiriman berbagai produk ini dilakukan dalam keadaan dingin atau dimasukkan dalam boks es, untuk menjaga temperatur tetap stabil.

Lutfi bilang, pada musim panas, biasanya terjadi peningkatan penjualan susu. Sebaliknya, penjualan akan menurun di musim dingin. Ia pun akan menggenjot penjualan susu rempah-rempah yang hangat di musim dingin.

Sementara itu, Neneng membuat diversifikasi produk yang lebih luas. Ia juga membuat berbagai camilan berbahan susu, seperti milk stik, telur gabus susu, permen susu, dan keripik singkong. Jelas, di sini, susu  menjadi pencampur berbagai bahan untuk adonan makanan kering tersebut.

Promosi dan pemasaran  produk olahan susu bisa dilakukan dalam berbagai cara. Ambil contoh strategi yang dipilih Neneng. Dari awal memulai usaha hingga sekarang, ia masih giat datang ke sekolah-sekolah dan supermarket untuk menjajakan beragam produknya.

Neneng menjelaskan, promosi ke sekolah ditempuhnya dengan membagikan susu secara gratis. “Ini tujuannya, supaya anak, guru, dan orang tua murid mengenal dan tertarik dengan produk saya,” ujar dia.

Proses pengenalan produk juga dilakukan di supermarket. Namun, Neneng akan terlebih dulu menawarkan proposal dan menempatkan unit freezer. “Dari dulu sampai sekarang kami tidak pilih-pilih toko, mulai dari toko kecil, toko rumahan, selama saya lihat prospeknya bagus akan satu taruh freezer,” jelas dia.

Alhasil, saat ini, produk Hasmilk sudah tersebar di berbagai peritel modern, yang berada di Bandung dan Sukabumi, seperti Borma, Yogya, Tiara, Samudra, Berkah Baru, Healty Grosir, dan lainnya. “Jika dihitung, freezer saya sudah tersebar di 120 titik,” ujar Neneng.

Sementara Lutfi menempuh cara yang berbeda. Ia menawarkan produknya melalui kedai susu, baik yang ia miliki sendiri ataupun yang dimiliki oleh mitranya. Saat ini, ada lima kedai susu yang menawarkan aneka produk Lumer.

Selain itu, ia juga menjaring pasar dari karyawan pabrik. karena itu, ia menjalin kerja sama dengan pemilik pabrik agar menggalakkan program minum susu bagi karyawannya. “Jika bisa mendapatkan 1.500 orang karyawan, maka pendapatan per hari bisa mencapai Rp 17,6 juta,” terang Lutfi.

Dengan omzet per hari sebesar itu, ia pun menaksir, usaha pengolahan susu bermodal  Rp 1 miliar bisa balik modal dalam kurun waktu hanya sekitar 1,5 tahun.            

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×