kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Merangkai untung dari limbah sumbu kompor dan karet bekas


Rabu, 08 Juni 2011 / 13:27 WIB
Merangkai untung dari limbah sumbu kompor dan karet bekas
ILUSTRASI. Pekerja berjalan di samping grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta


Reporter: Dharmesta | Editor: Tri Adi

Remeh, diinjak-injak, tapi menguntungkan. Itulah keset. Bisnis keset tetap menggiurkan dengan makin tumbuhnya hunian dan bangunan. Seiring hunian dan bangunan yang bertumbuh pasti membutuhkan keset. Produsen keset di Gresik, Jawa Timur bisa mengantongi omzet sekitar Rp 20 juta per bulan dari penjualan keset berbahan baku sumbu dan karet.

Kendati letaknya yang ada di bawah dan diinjak-injak, keset memiliki peran vital di zaman sekarang. Sebab, keset menjadi sarana awal menjaga kebersihan rumah. Tak heran, permintaan keset selalu ada. Bahkan bertambahnya tempat tinggal dan kantor membuat peluang bisnis keset kian menganga.

Meski bisnis enteng, para pembeli tak sembarangan memilih keset. Pembeli biasanya mencari keset yang memiliki kualitas bagus, terutama mampu menyerap air dan tidak licin sehingga si pemakai tidak akan terpeleset. Produsen keset pun bersaing di produk seperti ini. Keset karet dan dan sumbu bisa menjadi alternatif.

Ifado Alif Yusfi, produsen keset di Gresik, Jawa Timur telah memproduksi keset sumbu dan karet sejak lima tahun lalu. Dia melihat sisa industri yang bisa dimanfaatkan menjadi keset. Apalagi, "Dalam industri keset sudah biasa menggunakan bahan-bahan limbah," kata Ifado.

Ifado mengatakan, sumbu yang digunakannya berasal dari sisa industri kompor dan juga ban bekas. Ia bilang, dengan menggunakan bahan sumbu dan karet daur ulang, produknya mempunyai kelebihan di mata konsumen. Tapi, beralihnya masyarakat dari penggunaan kompor minyak ke kompor gas membuat Ifado harus memesan sumbu kompor secara khusus.

Meski berbahan dasar sisa pabrik, kualitas keset buatannya sudah diakui di luar negeri dan juga tahan lama. Satu kodi atau 20 lembar keset sumbu berbentuk melingkar diameter 50 sentimeter (cm) dijualnya di harga Rp 65.000. Adapun keset ukuran 61 cm harganya Rp 95.000 per kodi.

Ifado menjual keset sumbu ukuran 46 x 34 cm seharga Rp 85.000 per kodi. Sedangkan keset karet ukuran 46 cm x 34 cm dia jual dengan harga Rp 150.000 per kodi. Harga keset karet memang cukup mahal, Ifado berkata bahwa tonjolon di bagian bawah keset karet bisa menjadi terapi kaki.

Ifado mensyaratkan pembelian minimal 25 kodi keset. Dia beralasan kalau menjual keset dalam jumlah sedikit akan rugi waktu dan tenaga. Apalagi kalau pekerja harus mengerjakan model dan warna tertentu dalam jumlah tipis.

Lewat banyak agen penjual, keset buatan Ifado sudah merambah seluruh wilayah Indonesia. Ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 20 juta dari penjualan keset ini.

Untuk menarik agen yang merupakan pembeli utama produknya, Ifado tidak mengharuskan mereka beli banyak-banyak. Agen yang puas dengan produk buatan Ifado biasanya akan memesan kembali.

Tahun lalu, ada pengusaha asal Turki yang tertarik mengimpor keset bikinan Ifado. Waktu itu, sampel yang dikirimnya sudah dinyatakan lolos standar produk Turki dan pengusaha tersebut sudah membayar uang muka.

Tapi ketika Ifado meminta bantuan pemerintah setempat untuk mengurus izin ekspor tapi tidak ada tanggapan. Padahal, jika ekspor jadi, "Saya berencana menambah jumlah pegawai," kata Ifado. Ia mengaku turut membantu mempertipis pengangguran dengan 15 pegawai di tempatnya.

Kelima belas pekerja Ifado merupakan ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya. Ibu-ibu ini menggarap keset dari awal hingga akhir. Proses pengerjaan keset ini sederhana. Ifado memilah beberapa pekerja bertugas yang mengerjakan pesanan dari agen. Sumbu-sumbu ini dirangkai dan dijahit menggunakan tangan dan mesin jahit.

Meski sempat terganjal masalah ekspor itu, Ifado optimistis usaha kesetnya bakal terus maju. Ia tak patah arang untuk mencoba kembali pasar ekspor.

Hadi Poernomo, produsen keset karet di Sidoarjo, Jawa Timur mengaku juga memakai limbah ban bekas dari pengumpul yang ada di sekitarnya sejak setahun lalu. Hadi menitipkan produknya di toko-toko peralatan rumah tangga dan menjualnya lewat internet. Ia menjual satu kodi keset Rp 160.000 lewat internet dengan minimal pesanan 15 kodi.

Hadi mempekerjakan lima karyawan. Ia sendiri pun turun tangan di proses produksi. Hadi mengatakan hanya bisa mengantongi penjualan Rp 3 juta per bulan karena penjualan dan distribusi kesetnya masih sebatas Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×