kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45780,32   4,77   0.62%
  • EMAS1.023.000 -0,68%
  • RD.SAHAM 0.16%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Yuk, intip profil Putra Aji Adhari, hacker cilik anak Jakarta Selatan


Kamis, 10 Oktober 2019 / 10:15 WIB
Yuk, intip profil Putra Aji Adhari, hacker cilik anak Jakarta Selatan
ILUSTRASI. Putra Aji Adhari, White Hat Hacker cilik

Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Tri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Putra Aji Adhari, White Hat Hacker cilik asal Kreo, Jakarta Selatan. Meski masih terhitung bocah, dia berhasil menembus beberapa situs bank dalam negeri hingga situs NASA.

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata "hacker"? Penjahat, pembobol situs website atau pencuri data.

Baca Juga: Jadi Anggota DPR termuda, ini harta kekayaan Hillary Brigitta Lasut

Jangan selalu berpikiran buruk terhadap profesi tersebut. Ada, lo, hacker yang baik. Mereka sengaja mencari cara menembus website atau gudang data perusahaan untuk mencari kelemahanya.

Bila berhasil menemukan celah dan masuk ke dalam situs, mereka akan melaporkannya kepada perusahaan. Tujuannya, agar perusahaan menutup celah tersebut. Hacker seperti itu disebut White Hat Hunter.   

Putra Aji Adhari, bocah laki-laki berusia 15 tahun, salah satu white hat hacker tenar asal Jakarta. Sekitar bulan Mei 2019 lalu, nama Putra mulai viral pasca berhasil meretas situs NASA.

Laki-laki yang suka makan telor ini mengatakan sejak saat itu dia makin diburu masyarakat. Bukannya mereka mengajak Putra untuk berselfie tapi untuk proyek uji penetrasi situs.

Beberapa pelanggannya adalah bank plat merah dan swasta. Selain itu, dia juga sempat mendapatkan proyek dari salah satu media online dan lainnya.

Putra mematok tarif proyek bervariasi sesuai dengan tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan. "Saya pernah mendapatkan kontrak proyek satu bulan seharga Rp 25 juta," katanya.

Anak bungsu dari empat bersudara ini menggunakan pendapatannya untuk up grade perangkat kerja. Selain itu, dia juga membelanjakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca Juga: Kisah Sugeng Handoko mendirikan ekowisata desa Nglanggeran (bagian 1)

Asal tahu saja, Putra mulai belajar meretas situs sejak berusia 12 tahun. Dia mempelajari teknik membobol situs secara otodidak.

"Saya banyak cari tahu dari Google kemudian bergabung dengan komunitas," jelasnya. Para anggota komunitas memberi banyak wawasan dan ilmu untuk meningkatkan kemampuanya.

Halaman Selanjutnya: Pernah Menembus Situs Bank Besar 

Berbekal rasa penasaran dan keuletannya, dalam hitungan bulan Putra sudah berhasi meretas satu website. "Saat itu saya meretas situs perusahaan luar negeri," katanya.

Belum puas dengan pencapaiannya, dia kian getol meningkatkan ketrampilannya. Sampai suatu hari, dia berhasil membobol situs website salah satu bank swasta di Indonesia.

Baca Juga: Kisah Sugeng Handoko mendirikan ekowisata desa Nglanggeran (bagian 2)

Dian Suprianto, kakak Putra bercerita adiknya mulai tertarik untuk belajar meretas situs setelah akrab dengan game online.

Asal tahu saja, Putra membeli perangkat komputer dari angpao khitan yang dikumpulkanya.

"Dia sering ngobrol dengan saya dan kakak untuk mengenal komputer," kata Dian. Putra juga tidak sungkan meminta bantuan sang kakak bila komputernya sedang bermasalah.  

Maklum saja kedua kakak putra bekerja di bidang komputer dan teknologi informasi.

Vacum jelang ujian nasional

Sekarang, Putra tercatat sebagai siswa kelas tiga Manba'ul Khair. Berdasarkan ceritanya, Putra akan vacum sementara menjadi White Hat Hacker menjelang ujian akhir. Alasannya, dia ingin fokus belajar untuk persiapan ujian nasional.

"Saat ini saya masih terima project, vacumnya nanti kalau sudah mendekati jadwal ulangan," katanya.

Saat lulus sekolah nanti, Putra ingin mengambil sekolah kusus komputer. Dia berharap dapat meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi informasi.

Baca Juga: Kisah Sugeng Handoko mendirikan ekowisata desa Nglanggeran (bagian 3)

"Saat kuliah nanti saya ingin belajar programming," katanya.   

Putra bercerita dia sempat ditawari posisi menjadi Chief Technology Officer (CTO) di salah satu perusahaan start up. Namun, dia menolak karena ingin fokus belajar untuk menyelesaikan pendidikannya.




TERBARU

[X]
×