kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Fulus dari Daur Ulang Limbah Pertanian


Sabtu, 11 Juli 2026 / 07:05 WIB
Fulus dari Daur Ulang Limbah Pertanian
ILUSTRASI. Produk limbah kertas Suhuf (Dok/Suhuf)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi akuisisi ternyata tidak sepenuhnya hanya berlaku di level korporasi. Langkah serupa juga dilakukan di tingkat kewirausahaan.

Inilah yang dilakoni Risma Indriyani saat mengambil alih label Suhuf pada 2020, sebuah label kertas daur ulang legendaris yang sempat eksis sejak 1994 sebelum akhirnya gulung tikar pada 2016.

Aksi tersebut tidak terlepas dari perhatian Risma terhadap limbah pertanian di sekitar tempat tinggalnya, mulai dari Dago Atas, Bandung, hingga Padalarang, yang banyak menyisakan residu pertanian dan dibiarkan membusuk tanpa dimanfaatkan.

"Suhuf yang dulu fokus pada serat abaka dan kertas bekas, ketika direaktivasi fokusnya ke limbah pertanian," kata Risma belum lama ini.

Baca Juga: Gurih Nian Laba dari Pempek Tahan Lama

Berbekal ilmu biologi yang diperolehnya di bangku kuliah, Risma memutuskan berinovasi dengan memanfaatkan limbah pertanian menjadi kertas daur ulang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Namun, perjalanan membesarkan Suhuf tidak serta-merta berjalan mulus. Selama periode 2020 hingga pertengahan 2025, Risma harus menjalani peran ganda sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan sembari mengelola Suhuf secara paruh waktu.

Baca Juga: Fulus dari Inovasi dan Pemberian Label

Keterbatasan modal dan minimnya pengalaman berbisnis memaksa Suhuf berkembang secara perlahan dengan mengandalkan ceruk pasar ritel langsung ke konsumen.

Titik balik operasional Suhuf terjadi pada pertengahan tahun lalu. Akibat kecelakaan yang menyebabkan dirinya mengalami patah tulang, Risma terpaksa harus beristirahat total.

Di tengah kondisi fisik yang terbatas, Risma justru bertekad membesarkan Suhuf secara penuh demi membuka lapangan kerja baru. Ia pun memutuskan mengundurkan diri dari karier profesionalnya.

Baca Juga: Ubah Kebutuhan Berpakaian Jadi Cuan

Setelah mengundurkan diri, langkah strategis pertama yang diambil Risma adalah menggeser fokus bisnis dari pasar ritel menuju pasar korporat. Langkah ini terbukti menjadi akselerator pertumbuhan volume produksi perusahaan.

Risma sengaja memilih bermitra dengan petani perorangan maupun komunitas tani kecil untuk memperoleh bahan baku. Tujuannya adalah menciptakan ekonomi sirkular.

Hasilnya, hingga pertengahan 2026, jaringan mitra Suhuf telah mencapai 57 orang yang terdiri atas petani dan perajin lokal yang tersebar di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Baca Juga: Cuan nan Renyah dari Aneka Camilan dan Abon

Secara bertahap, kapasitas produksinya pun meningkat pesat. Jika pada awal berdiri Suhuf hanya mampu mengolah 100 kilogram (kg) limbah pertanian per bulan, kini kapasitasnya telah mencapai 600 kg per bulan.

Peningkatan tersebut memungkinkan Suhuf melakukan diversifikasi produk, mulai dari notebook, kotak mahar, kemasan premium, hingga buku Yasin kustom dengan harga berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 500.000.

Tak heran, produk Suhuf kini telah menembus ritel modern seperti Paperclip Indonesia. Di segmen korporasi, Suhuf juga menjangkau pasar global melalui pihak ketiga, antara lain di Kanada, Finlandia dan Jerman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×